Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode Gratis!

KamusKami.com Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode Gratis! Hello, friends of Kamuskami, meet again with the admin here, who this time will share a novel chapter that is currently being hunted by a lot of internet users. Especially novels.

So for those of you who are looking for the latest chapter of the novel that you want to go viral, check out the novel below.

Deskripsi Novel Hinaan Dari Keluarga Suami

Judul: Hinaan Dari Keluarga Suami
Penulis: Rita Febriyeni
Penerbit: Fizzo
Genre: Drama
Bahasa: Bahasa indonesia

Sinopsis Novel Hinaan Dari Keluarga Suami

Mereka menghina Rina karena hanya tamat SMP. Tak berpendidikan tinggi bukan berarti bodoh. Rina yang punya bakat menulis cerita, dim-diam terus belajar melalui grup literasi hingga dia bisa menjadi penulis top di beberapa aplikasi novel online, dan menghasil uang hingga berubah hidupnya.

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Episode 77

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode Gratis!

Terima Kasih Memintaku Bekkerja, Mas. (Part 1)

“Mas, uang LKS Tia belum dibayar, besok ia terima rapor dan harus lunas.”

“Berapa?” tanya mas Arga sambil memasang sepatu.

“Sembilan puluh enam ribu, Mas. Ditambah uang seragam lima ratus ribu.”

“Kok banyak kali? Bukankah uang seragam sudah dibayar waktu itu?”
Alisnya bertaut menatapku.

“Tapi itu cuma empat ratus ribu, Mas. Mana cukup. Totalnya sembilan
ratus ribu.”

“Waduh! Aku nggak punya uang sebanyak itu. Kamu kan tau gajiku kecil.
Makanya kamu bantuin aku cari uang, ini malah duduk di rumah, buat apa
sarjana ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga.”

Ini perkataan yang sering aku dengar dari mulut mas Arga. Semenjak aku
berhenti kerja karena keguguran. Padahal anak kami hanya seorang dan
sekarang baru kelas satu SMP. Tujuanku agar bisa punya keturunan lagi,
dan ini juga keinginan ibu mertua. Namun kenyataanya dengan berhenti
kerja, perekonomianku susah. Dan sampai sekarang juga tak kunjung hamil,
padahal aku tidak KB.

Dulu saat memutuskan berhenti kerja, itu karena ucapan ibu mertua. Ia
janji akan memberikan biaya dapur tiga juta perbulan. Aku percaya karena
ia terima pensiunan perbulannya, ditambah ada tiga petak rumah
kontrakkan di samping rumah ini. Namun hingga sekarang, ucapan ibu
mertua tidak terbukti.

“Aku juga udah cari kerja, bahkan sudah beberapa kali tes, tapi belum
juga ada hasilnya, Mas,” lirihku menahan hati.

“Makanya jangan berhenti kerja. Ini malah sok banyak duit kayak orang
kaya aja. Lihat istri teman-temanku banyak jadi wanita karir, bahkan
sudah punya rumah dan mobil.”

“Tapi ini juga keinginan Ibu, Mas.”

“Emang yang biayain hidupmu Ibuku? Mikir pakek otak, bukan pake
dengkul.” Lalu ia berlalu keluar kamar.

“Jangan menangis, Sarah. Kamu udah biasa mendengarnya,” bathinku
mensugesti diri agar tidak meneteskan air mata.

Aku sudah tak punya tabungan lagi. Dulu sebagian uang jamsostek hasilku
bekerja sudah terpakai buat membangun kamar baru di rumah ini. Tak
mungkin Tia masih tidur denganku dan mas Arga. Lagian biaya keseharian
hanya dari uang dua juta yang diberikan mas Arga. Padahal di rumah ini
ada ibu mertua dan adik iparku yang sudah bekerja.

Pernah aku mengeluh biaya dapur, ibu mertua mengabaikannya. Bahkan ia
bicara sumbing dengan mengatakan jika aku istri yang tidak bisa
berhemat. Menjawab, tetap saja aku yang disalahkan. Bahkan Andi–adik
iparku tak segan-segan berdebat seperti mulut perempun. Ya, Andi lelaki kemyu.

Aku keluar kamar, tapi tak melihat mas Arga. Terlihat motor masih ada di
teras karena pintu terbuka lebar. Lalu aku ke ruang tengah ingin
memastikan keberadaanya. Bagaimanapun juga, aku harus mencium punggung
tangannya sebelum ia berangkat kerja.

“Itulah, Bu. Sarah tak bisa berhemat. Padahal gajiku sudah sepenuhnya ia
yang pegang.”

Deg!

Langkahku terhenti saat melewati pintu kamar ibu mertua. Terdengar suara
mas Arga mengeluh tentang diriku.

“Kok Sarah gitu? Bukankah Ibu sudah kasih tiga juta tiap bulan agar
sebagian gajimu bisa untuk kebutuhan lain. Toh yang bayar listrik dan
air, Andi kok,” kata ibu mertua.

Darahku berdesir mendengar perkataan ibu mertua. Aku tak pernah menerima
uang tiga juta darinya, apalagi setiap bulan. Kenapa ia bicara dengan
mas Arga seolah aku sudah sering menerimanya. Bahkan aku hanya menerima
uang dua juta setiap bulan dari gaji mas Arga. Dan yang aku tahu gaji
suamiku itu hanya dua juta lima ratus ribu perbulan.

“Itulah, Bu. Aku tu capek dengar keluhannya. Ini uang seragam sekolah
Tia masih utang, belum lagi uang LKS.”

“Ya udah, ini satu juta, cepat bayarin, jangan sampai istrimu malah
makek untuk yang lain. Gimanapun juga pendidikan anakmu penting.”

Aku segera berlari ke kamar sebelum mas Arga tahu aku menguping.
Terduduk di tepi ranjang, dada ini terasa sesak. Kenapa mereka bicara
seolah aku yang menghabiskan uang buat berfoya-foya. Apa ibu mertua tak
lihat keseharianku hingga ucapan itu tak ragu dilontarkan. Dan mas Arga?
Kenapa ia mengeluh ke ibunya seolah aku istri tak becus mengolah
keuangan. Bukankah ia tahu berapa banyak uang yang aku pegang.

“Sarah, ini uang buat sekolah Tia. Itu aku lebihin sedikit agar bisa
beli ayam buat masak.” Tiba-tiba mas Arga masuk kamar, lalu memberikan
uang padaku.

“Ya, Mas,” jawabku menerima uang itu.

“Aku berangkat kerja dulu, hari ini aku pulang larut karna harus lembur.
Kamu nggak usah tunggu karna aku bawa kunci cadangan.”

Setelah mencium punggung tangan mas Arga, ia berlalu pergi dengan motor.
Motor sport itu hasil dari keringatku dulu bekerja. Sementara motor
bebek milik mas Arga sudah dijual dan dibelikan perhiasan. Namun
perhiasan itu akhirnya habis buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kuhitung uang yang diberikan mas Arga. Semua uang lembaran lima puluh
ribu. Tapi, hanya berjumlah delapan ratus ribu. Bukankah tadi aku dengar
ibu mertua memberi uang satu juta?

Aku kembali ke kamar. Memikirkan tentang komunikasi mas Arga dengan
ibunya. Dan yang kutangkap, ada sebuah kebohongan menjadikanku kambing
hitam. Tapi siapa yang berbohong? Ibu mertua atau suamiku? Tapi apa
tujuannya? Bukankah aku menantu di rumah ini.

Tiba-tiba lamunanku terhenti mendengar ponsel berdering. Kulihat layar
ponsel, nomor yang pernah menghubungiku beberapa kali. Segera aku terima.

“Halo,” ucapku di ponsel.

Alhamdulillah, ternyata ini panggilan keempat. Panggilan buat wawancara
akhir. Ini perusahaan besar yang pernah bekerja sama dengan perusahaanku
dulu bekerja. Bahkan aku kenal pimpinannya karena sering menghubunginya
untuk masalah proyek. Tadinya aku tak yakin karena banyak saingan yang
lebih muda. Tepatnya gadis-gadis baru tamat sarjana.

“Mau ke mana, Sar?” tanya ibu mertua. Mungkin melihat aku sudah rapi,
dan sedang memasang sepatu hak tinggi yang biasa kupakai dulunya waktu
kerja.

“Aku mau pergi tes kerja, Bu,” jawabku.

“Kamu tu udah dapat senang mau-maunya cari uang di luar. Sebaiknya minum
rebusan kacang ijo biar rahimmu subur. Berapa umurmu sekarang? Nanti
nggak bisa punya anak lagi loh.”

Ibu mertua tak suka aku bekerja. Tapi suamiku justru ingin aku bekerja.
Dua pendapat bertentangan namun tetap saja menyudutkanku. Aku bisa
maklum kenapa ibu mertua ingin aku hamil lagi. Andi tak pernah bawa
perempuan ke rumah. Padahal ia sudah mapan, kerja PNS. Mungkinkah ada
pengaruh dengan sikap kemayunya? Entahlah.

“Alhamdulillah, benar aku diterima, Pak?”

“Iya, aku harap kamu tak lupa cara menangani proyek. Dan selama kita
kerja sama dulu, sudah cukup aku tau kinerjamu, Sarah,” jawab pak Ismail
terdengar santai. Kami sering bercanda dulunya hingga suasana tidak
kaku. Bahkan aku juga kenal baik dengan istrinya.

Aku meneteskan air mata. Tak menyangka jika kesempatan itu masih ada.
Kini aku bisa kerja seperti dulu dengan jabatan manajer.
Alhamdulillahirabil’alamiin.

“Mas Arga, aku sudah dapatkan kerja, akan kuperlihatkan seperti apa
seorang istri, wanita karir sebenarnya. Terima kasih memintaku agar
bekerja lagi,” bathinku.

Closing

That’s all the admin can convey regarding the information this time about “Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode Gratis!. Hopefully this can help all of you, especially for novel lovers.

Thank You

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *